pertempuran bojongkooksan 9 desember 1945
PERTEMPURAN SUKABUMI atau lebih dikenal
dengan peristiwa BOJONG KOKOSAN Ⓟertempuran di Sukabumi, Jawa Barat ini
jarang di bahas tapi dicatat sebagai sejarah bangsa Indonesia untuk
menunjukan kedaulatan RI, yang merugikan pasukan Inggris (sekutu) maupun
Belanda pada masa pelucutan dan pemulangan tentara Jepang setelah kalah
perang. Kisah ini adalah cuplikan dari Buku Pertempuran Konvoy
Sukabumi-Cianjur 1945 - 1946. Seandainya R.H. Eddie Soekardi dan
adiknya R.H. Harry Soekardi tidak diculik Kempetai dari rumah
kediamannya di Gang Ijan Bandung untuk dijadikan tentara PETA (Pembela
Tanah Air), mungkin pimpinan penyerangan konvoi di Sukabumi-Cianjur
bukanlah mereka. Mereka dikirim ke Bogor untuk digembleng menjadi calon
perwira PETA. Ide pembentukan PETA sendiri berdasarkan perundingan
rahasia antara Otto Iskandar Dinata, Iyos Wiriaatmaja, dan R. Gatot
Mangkupraja. Mereka berpikiran jauh ke depan bahwa bangsa Indonesia
memerlukan kader-kader militer kelak. Pada tanggal 7 September 1943
Gatot Mangkupradja mengirim surat kepada penguasa militer Jepang agar
bangsa Indonesia diperkenankan membantu Jepang di garis depan. Kemudian
pada tanggal 3 Oktober 1943 Letnan Jenderal Kumakici Harada memaklumkan
pembentukan PETA (hal 36). Peristiwa penghadangan konvoy sekutu di
jalur Sukabumi - Cianjur tahun 1945 - 1946 ini disebut dengan berbagai
sebutan. Ada yang menyebut Perang Bojongkokosan, Palagan Bojongkokosan,
Peristiwa Bojongkokosan, atau seperti judul buku yang dikutip.
Pertempuran ini terjadi dua kali yaitu 9 - 12 Desember 1945 dan 10 - 14
Maret 1946 keduanya di jalur Sukabumi - Cianjur. Bojongkokosan hanyalah
salah satu tempat peristiwa yang terletak di sebelah barat laut dari
kota Sukabumi. Tidak bisa dikesampingkan peran besar Batalyon III
Resimen TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Sukabumi yang berkedudukan di
Cianjur. Nara sumber utama adalah R.H. Eddie Soekardi mantan Komandan
Resimen III TKR / TRI Sukabumi, R.H. Harry Soekardi mantan Komandan
Batalyon II TKR / TRI Sukabumi, dan H. Anwar Padmawijaya mantan Komandan
Batalyon III TKR / TRI Cianjur. Nara sumber pendukung adalah para
veteran Pejuang Angkatan 1945 Sukabumi dan Cianjur. Inti buku terdapat
dalam Bab IV yaitu pertempuran 9-12 Desember 1945 serta Bab V mengenai
pertempuran 10-14 Maret 1946. Bab VI merupakan epilog dan berisi
rangkuman serta kesimpulan. Berikut ringkasan kedua pertempuran hebat
tersebut : Perang Konvoi Pertama Tentara Inggris salah satu negara
pemenang PD II mengemban misi internasional sekutu yaitu: perlucutan dan
pemulangan tentara Jepang, serta pengiriman perbekalan dan pemulangan
APWI. Khusus mengenai urusan di bekas Hindia Belanda mereka membentuk
AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). Celakanya mereka
terbebani oleh Civil Affairs Agreement yang ditandatangani Belanda dan
Inggris tanggal 24 Agustus 1945 yang intinya “Pemerintah Inggris akan
membantu mengembalikan kekuasaan Belanda atas wilayah Hindia Belanda”.
Ini bertentangan dengan Atlantic Charter (14-08-1941) yang
ditandatangani Inggris “Bahwa setiap bangsa berhak menentukan nasib
sendiri”. Pada tanggal 29 September 1945 bersamaan dengan kedatangan
Panglima Skadron Penjelajah V Inggris Laksamana Muda W.R. Patterson
turut pula Ch. O. van Der Plas, Wakil Kepala NICA (Netherlands Indies
Civil Administration) untuk membentuk Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.
Hilir mudiknya konvoi sekutu Jakarta - Bandung yang melewati Sukabumi
tidak menghiraukan kesatuan-kesatuan TKR di wilayah yang dilewati.
Padahal misi AFNEI harus melibatkan TKR. Akhirnya TKR Resimen III
Sukabumi di bawah Letkol Soekardi waktu itu masih 29 tahun ingin memberi
pelajaran kepada Sekutu. Dilakukanlah herdislokasi empat Batalyon :
Batalyon I pimpinan Mayor Yahya B. Rangkuti bersiaga di Jalan raya Ciawi
- Cigombong - Cibadak (18 km) sebagai pemukul pertama Batalyon II
pimpinan Mayor Harry Soekardi bersiap mulai dari Cibadak hingga Sukabumi
bagian barat (18 km) sebagai pemukul kedua Batalyon III pimpinan Kapten
Anwar berjaga mulai Gekbrong hingga Ciranjang Cianjur (30km) Batalyon
IV pimpinan Mayor Abdulrachman ditempatkan di jalan raya Sukabumi bagian
timur hingga Gekbrong (15 km) Dengan kekuatan lebih kurang 3000
personil dibantu laskar perjuangan dan rakyat, mereka bersiaga menunggu
konvoi Sekutu yang datang dari arah Jakarta. Konvoi perbekalan APWI
yang dikawal Batalyon 5/9 Jats (Satuan tentara Inggris yang berasal dari
Punjab, India) terdiri dari 150 truk yang dikawal Tank Sherman, Panser
Wagon dan Brencarrier tanggal 9 Desember 1945 sore memasuki Cicurug.
Kepala konvoi mendapat serangan pertama di Bojongkokosan di antara dua
tebing, sedangkan ekor konvoi berada di Cicurug mendapat serangan
setelah timbul kepanikan. Akibat penyergapan tersebut keesokan harinya
tanggal 10 Desember pagi-pagi RAF memborbardir Cibadak untuk balas
dendam. Bombardemen berlangsung hingga pukul 16.00. Dalam buku The
Fighting Cock (Doulton, 1951) disebutkan bahwa ini merupakan serangan
udara paling dahsyat dalam “perang” di Pulau Jawa. Adapun Batalyon Jats
yang tersisa menyatukan diri dan beristirahat di tengah kota Sukabumi.
Pada tanggal 11 Desember 1945 Markas Sekutu di Cimahi mengirim
balabantuan Batalyon 3/3 Gurkha Rifles. Tetapi pasukan ini dihadang
Batalyon III di sepanjang Jalan Raya Cianjur yang menggunakan taktik
“Hit and Run” dengan disiplin tinggi. Meskipun Batalyon Gurkha Rifle dan
Jats dapat bergabung pada malam harinya di kota Sukabumi, mereka
memohon untuk dapat melanjutkan perjalanan ke Bandung dan tidak
diganggu. Akibat peristiwa ini Pemerintah Inggris mendapat kecaman dari
berbagai pihak. Akhirnya AFNEI ingin melibatkan TKR untuk mengemban misi
internasionalnya.
Ini artinya pengakuan terhadap kesatuan TKR dan
kedaulatan RI. Perang Konvoi Kedua Tidak senang dengan keberhasilan
diplomasi RI dengan Sekutu, NICA membujuk AFNEI agar memindahkan pusat
kekuatan militernya ke Bandung. Sebelum Indonesia merdeka Belanda telah
memindahkan Kementrian Peperangan (DVO) dan markas tentaranya ke
Bandung, bahkan Bandung telah dipersiapkan untuk Pusat Pemerintahan
Hindia Belanda. Dalam pikiran mereka untuk menguasai Indonesia, maka
harus dikuasai dahulu Jawa Barat terutama Bandung. AFNEI terbujuk bahkan
membiarkan pendaratan besar-besaran tentara Belanda di Tanjung Priuk.
Resimen III TRI Sukabumi kembali ditugaskan menggagalkan rencana AFNEI.
Sekutu kembali menggunakan jalur Sukabumi - Bandung, mereka menduga atau
mungkin menganggap remeh jalur ini sudah “bersih dan aman”. Tetapi
tanggal 10 Maret 1946 Konvoy Tentara Sekutu dari Batalyon Patiala
(tentara sewaan berasal dari suku Patiala India) sore hari tepat di
jalan raya Cipelang mereka mendapat serangan dari Batalyon II Resimen
III TRI Sukabumi. Bagian ekor konvoi dihajar oleh Batalyon I. Ketika
memasuki kota Sukabumi mereka mendapat serangan batalyon IV. Kejadian
ini mirip dengan Perang Konvoi Pertama tiga bulan sebelumnya. Sekutu
tidak mengambil pelajaran. Tanggal 11 Maret malam kembali gabungan
pasukan Batalyon I , II, dan IV mengadakan serangan kepada Batalyon
Patiala yang terisolasi di tengah kota Sukabumi. Mereka memadukan taktik
“hit and run” dan “kirikumi” yaitu serangan yang dilakukan secara
mendadak kemudian menghilang dan dilakukan secara rotasi oleh berbagai
kompi yang dibantu laskar perjuangan dan rakyat. Pada waktu subuh
serangan berakhir. Tanggal 12 Maret 1946 Markas Tentara Sekutu di Bogor
mengirimkan balabantuan pasukan tank Squadron 13 Lancer yang dikawal
Pasukan Grenadier.
Mereka tiba di Cikukulu Sukabumi sore hari dan
mendapat serangan dari Batalyon I dan II. Akhirnya pasukan penolong ini
minta tolong kepada pasukan yang ditolong. Sebagian pasukan Patiala
dikirim untuk menolong Pasukan Grenadier, tetapi di tengah jalan mereka
mendapat serangan lagi dari TRI. Bersamaan itu pula dari Markas Tentara
Sekutu di Bandung mengirim Pasukan Rajputana Rifles. Batalyon III yang
berkedudukan di Cianjur tidak membiarkan mereka melenggang percuma.
Mereka dapat memasuki kota Sukabumi setelah melalui pertempuran berat
dan babak belur yang juga diserang oleh kompi-kompi dari Batalyon IV.
Setelah 4 satuan tidak berdaya Inggris mengirimkan kembali pasukan
Brigade I dari markasnya di Bandung yang dipimpin Brigadier N.D.
Wingrove tanggal 13 Maret 1946. Pasukan ini terdiri dari 400 kendaraan
termasuk lapis baja dan artileri berat serta 2500 personil yang terdiri
dari tentara Inggris dan tentara sewaan dari India). Brigade I tertahan
di Ciranjang dan harus bermalam karena mendapat serangan hebat dari
Batalyon IV pimpinan Kapten Anwar di jembatan Cisokan. Tanggal 13 Maret
1946 pukul 20.00 empat kesatuan Tentara Sekutu yang sudah
berkonsolidasi di tengah kota Sukabumi kembali mendapat serangan
kirikumi. Mereka dalam keadaan terjepit dan terkepung sulit melakukan
balasan. Dr. Hasan sadikin yang menjadi kepala rumah sakit di Sukabumi
melaporkan tidak ada pihak TRI maupun rakyat pejuang yang gugur. Hanya
12 orang saja yang luka ringan. Dini hari tanggal 14 Maret 1946 pasukan
Brigade I Inggris melanjutkan perjalanan untuk membantu konvoi yang
terkepung. Sepanjang perjalanan mereka mendapat serangan dari Batalyon
III dan IV. Setelah 5 kesatuan itu dapat berkumpul kemudian meninggalkan
kota Sukabumi menuju Bandung. Sepanjang perjalanan mereka mendapat
gangguan dari penembak jitu Batalyon IV dan III Resimen III TRI. Empat
hari empat malam sekutu menderita kekalahan beruntun, walaupun ditopang
dengan persenjataan lengkap dan pengintai udara RAF. Jangan lupa mereka
adalah tentara yang berpengalaman di berbagai medan tempur Perang Dunia
II.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar